Ithaca

291 kata
2 reading.minutes
0:00 / --:--

Ulysses - Chapter 17

Ulysses - Bab 17

Bloom and Stephen walked through the quiet streets toward Bloom's home at 7 Eccles Street. The city was asleep now, the earlier chaos replaced by peaceful silence. Their footsteps echoed on the pavement, the only sound in the darkness.

Bloom dan Stephen berjalan melewati jalan-jalan yang sunyi ke rumah Bloom di 7 Eccles Street. Kota sedang tidur, kekacauan digantikan oleh ketenangan. Suara langkah kaki mereka bergema di trotoar, satu-satunya suara dalam kegelapan.

They discussed various topics: science, astronomy, the nature of the universe. Bloom shared his knowledge of the stars, pointing out constellations and explaining their movements. Stephen listened with interest, appreciating Bloom's curiosity about the world.

Mereka mendiskusikan berbagai topik: sains, astronomi, sifat alam semesta. Bloom menunjukkan pengetahuannya tentang bintang-bintang, menunjuk rasi bintang dan menjelaskan pergerakannya. Stephen mendengarkan dengan minat, mengagumi keingintahuan Bloom terhadap dunia.

"What is the meaning of it all?" Stephen asked, gesturing at the sky. "All those stars, all that space. What does it matter?"

"Apa arti semua ini?" tanya Stephen, menunjuk ke langit. "Semua bintang itu, semua ruang itu, untuk apa?"

Bloom considered the question seriously. "We're part of it," he said finally. "We're made of the same elements as the stars. When we die, we return to the universe. That's meaning enough, isn't it?"

Bloom merenungkan pertanyaan itu dengan serius. "Kita adalah bagian darinya," jawabnya akhirnya. "Kita terbuat dari elemen yang sama dengan bintang-bintang. Ketika kita mati, kita kembali ke alam semesta. Bukankah itu cukup berarti?"

They arrived at Bloom's house, and he realized he had forgotten his key. He had to climb over the railings and enter through the basement, a slightly undignified procedure. Stephen waited patiently, amused by the situation.

Mereka sampai di rumah Bloom, tetapi dia menemukan bahwa dia lupa kunci. Dia harus memanjat pagar dan masuk lewat ruang bawah tanah, tindakan yang tidak terlalu bermartabat. Stephen menunggu dengan sabar, merasa geli dengan situasi itu.

Inside, Bloom prepared cocoa for both of them, a simple domestic ritual that felt comforting after the day's adventures. They sat in the kitchen, drinking the warm beverage and talking quietly.

Di dalam, Bloom membuat kakao untuk keduanya. Setelah petualangan seharian, ritual rumah tangga sederhana ini terasa menenangkan. Mereka duduk di dapur, menyeruput minuman panas dan berbicara pelan.

Bloom showed Stephen photographs of his family, explaining who everyone was. He spoke of Molly, of their daughter Milly, of his hopes and disappointments. Stephen listened, seeing Bloom's life laid bare before him.

Bloom menunjukkan foto keluarga kepada Stephen, menjelaskan siapa adalah siapa. Dia berbicara tentang Molly, putrinya Milly, harapan dan kekecewaannya. Stephen mendengarkan, melihat kehidupan Bloom terbentang di hadapannya.

The conversation turned to their similarities and differences. Both were outsiders in Dublin, both were searching for meaning and connection. Yet they came from different worlds, different generations.

Percakapan beralih ke kesamaan dan perbedaan. Keduanya adalah orang luar di Dublin, keduanya mencari makna dan hubungan. Tapi mereka berasal dari dunia yang berbeda, generasi yang berbeda.

As the night deepened, Bloom offered Stephen a place to sleep. The young man could stay in the guest room, rest and recover before facing the world again.

Ketika sudah larut, Bloom menawarkan tempat tidur untuk Stephen. Pemuda itu bisa tinggal di ruang tamu, beristirahat dan pulih sebelum menghadapi dunia lagi.