Ulysses - Chapter 14
Ulysses - Bab 14
Bloom followed Stephen into Nighttown, Dublin's red-light district. The streets were alive with prostitutes, sailors, soldiers, and all manner of nighttime characters. Gas lamps cast eerie shadows, and music spilled from brothels and pubs.
Bloom mengikuti Stephen ke Nighttown, distrik lampu merah Dublin. Jalan-jalan penuh dengan pelacur, pelaut, tentara, dan segala jenis orang malam. Lampu gas melemparkan bayangan hantu, dan musik keluar dari rumah bordil dan pub.
Stephen was very drunk now, barely able to walk straight. He argued with his companions about money, about art, about everything and nothing. Bloom stayed close, worried that Stephen would get into trouble or be robbed.
Stephen begitu mabuk hingga hampir tidak bisa berjalan lurus. Dia berdebat dengan teman-temannya tentang uang, seni, tentang segalanya dan tidak sama sekali. Bloom berada di dekatnya, takut Stephen akan mendapat masalah atau dirampok.
Hallucinations began to plague Bloom's mind. He saw his dead father appear, reproaching him for abandoning Jewish traditions. His mother materialized, weeping over his choices. The ghosts of his past surrounded him, demanding explanations and apologies.
Halusinasi mulai mengganggu pikiran Bloom. Dia melihat ayahnya yang sudah meninggal muncul, memarahinya karena meninggalkan tradisi Yahudi. Ibunya muncul, meratapi pilihannya. Hantu masa lalu mengelilinginya, menuntut penjelasan dan permintaan maaf.
Stephen entered a brothel, and Bloom followed reluctantly. Inside, the madam Bella Cohen presided over a surreal scene of debauchery and fantasy. The boundaries between reality and imagination blurred completely.
Stephen masuk ke rumah bordil, dan Bloom mengikutinya dengan enggan. Di dalam, Madam Bella Cohen memimpin adegan pesta pora dan ilusi surealis. Batas antara kenyataan dan fantasi kabur sepenuhnya.
Bloom's hallucinations intensified. He imagined himself transformed into a woman, then crowned as mayor of Dublin, then put on trial for various crimes. His deepest fears and secret desires played out in vivid, disturbing scenes.
Halusinasi Bloom semakin intens. Dia membayangkan dirinya berubah menjadi wanita, dinobatkan sebagai walikota Dublin, lalu diadili karena berbagai kejahatan. Ketakutan terdalam dan keinginan rahasianya terungkap dalam adegan yang jelas dan mengganggu.
Stephen saw visions of his dead mother, her ghost rising to condemn him for his lack of faith. He struck out wildly with his walking stick, smashing a chandelier and crying out in anguish. The brothel erupted in chaos.
Stephen melihat visi ibunya yang sudah meninggal. Rohnya bangkit, menuduhnya kurang iman. Dia mengayunkan tongkatnya dengan panik, memecahkan lampu gantung dan berteriak kesakitan. Rumah bordil menjadi kacau.
Bloom paid for the damage and helped Stephen outside. The young man was in bad shape, emotionally and physically devastated. Bloom felt his protective instincts strengthen. He would see Stephen safely home, would make sure no harm came to him.
Bloom membayar kerusakan dan membawa Stephen keluar. Pemuda itu dalam kondisi buruk, memar secara fisik dan mental. Bloom merasakan naluri pelindung yang kuat. Dia harus membawa Stephen pulang dengan selamat, melindunginya dari bahaya.
The night had become a nightmare, but Bloom persevered. His odyssey was not yet complete.
Malam telah menjadi mimpi buruk, tetapi Bloom bertahan. Perjalanannya belum berakhir.