Wandering Rocks

266 kata
2 reading.minutes
0:00 / --:--

Ulysses - Chapter 10

Ulysses - Bab 10

Music filled the Ormond Hotel bar as Bloom entered, seeking distraction from his troubled thoughts. Two barmaids, Miss Douce and Miss Kennedy, presided over the establishment, their laughter and flirtation adding to the atmosphere.

Saat Bloom memasuki bar Hotel Ormond, musik mulai terdengar. Dia butuh pengalih perhatian dari pikirannya yang kacau. Dua pelayan bar, Miss Douce dan Miss Kennedy, menjaga bar. Tawa dan godaan mereka membantu menciptakan suasana.

Blazes Boylan appeared, ordering drinks before heading to his appointment with Molly. Bloom watched him from a distance, this man who was stealing his wife's affections. Boylan was everything Bloom was not: confident, handsome, successful with women.

Blazes Boylan muncul, memesan minuman sebelum pergi ke pertemuannya dengan Molly. Bloom mengamatinya dari kejauhan, pria yang mencuri kasih sayang istrinya. Boylan memiliki semua yang tidak dimiliki Bloom: kepercayaan diri, ketampanan, kesuksesan dengan wanita.

The piano began to play, and someone started singing. The music washed over Bloom, stirring emotions he had tried to suppress. He thought of love and loss, of youth and aging, of all the dreams that had failed to materialize.

Piano mulai bermain dan seseorang bernyanyi. Musik menyelimuti Bloom, membangkitkan emosi yang dia coba tekan. Dia memikirkan cinta dan kehilangan, masa muda dan usia tua, semua mimpi yang tidak terpenuhi.

Simon Dedalus, Stephen's father, sang with a voice that moved everyone in the room. His rendition of an old ballad brought tears to many eyes, including Bloom's. The beauty of the music transcended words, speaking directly to the heart.

Simon Dedalus, ayah Stephen, bernyanyi dengan suara yang memikat semua orang di ruangan. Penampilannya membawakan balada kuno membuat banyak orang meneteskan air mata, termasuk Bloom. Keindahan musik melampaui kata-kata, berbicara langsung ke jiwa.

Bloom wrote a letter to Martha Clifford, his secret correspondent. Their relationship was innocent enough, consisting mainly of letters and occasional meetings. But it provided him with companionship, someone who seemed to understand him.

Bloom menulis surat kepada Martha Clifford, sahabat pena rahasianya. Hubungan mereka cukup polos, terdiri dari surat-surat dan pertemuan langka. Tapi itu memberinya teman untuk mengurangi kesepian, seseorang yang sepertinya mengerti dirinya.

The music continued, each song adding to the emotional atmosphere. Bloom felt himself transported by the melodies, lifted out of his mundane concerns into a realm of pure feeling. For a moment, his pain receded, replaced by aesthetic appreciation.

Musik berlanjut, setiap lagu meningkatkan intensitas emosional. Bloom merasa terbawa oleh melodi, terangkat dari kekhawatiran duniawi ke alam perasaan murni. Untuk sesaat, rasa sakit surut, digantikan oleh estetika.

As the concert ended, Bloom prepared to leave. The music had helped, had given him strength to face what awaited at home. He would return to Molly, would continue their life together despite everything. What else could he do?

Saat konser berakhir, Bloom bersiap untuk pergi. Musik telah membantunya, memberinya kekuatan untuk menghadapi apa yang menantinya di rumah. Dia akan kembali ke Molly dan melanjutkan kehidupan pernikahannya, terlepas dari segalanya. Apa lagi yang bisa dia lakukan?