Scylla and Charybdis

283 kata
2 reading.minutes
0:00 / --:--

Ulysses - Chapter 9

Ulysses - Bab 9

Bloom wandered through Dublin's streets, deliberately avoiding his home. He knew what was happening there, knew that Molly and Boylan were together. The knowledge burned in his mind, but he refused to confront it directly.

Bloom berkeliaran di jalan-jalan Dublin, sengaja menghindari rumahnya. Dia tahu apa yang sedang terjadi di sana, tahu bahwa Molly dan Boylan sedang bersama. Pengetahuan itu membakar di benaknya, tetapi dia menolak untuk menghadapinya.

He passed familiar landmarks, each one triggering memories. Here was where he had courted Molly years ago, young and hopeful. There was the shop where he had bought her gifts, trying to win her affection. Dublin was a map of his life, every street corner holding some significance.

Setiap tempat yang akrab membangkitkan kenangan. Di sini dia merayu Molly bertahun-tahun yang lalu, ketika masih muda dan penuh harapan. Di sana adalah toko tempat dia membeli hadiah, mencoba memenangkan hatinya. Dublin adalah peta hidupnya, setiap sudut jalan sarat dengan makna.

People greeted him as he walked, and Bloom responded politely. He was well-known in the city, a familiar figure going about his business. No one suspected the turmoil in his heart, the pain he carefully concealed.

Orang-orang menyapanya saat dia lewat. Bloom membalas dengan sopan. Dia adalah sosok yang dikenal di kota, pemandangan yang akrab sedang melakukan urusannya. Tidak ada yang mencurigai badai di hatinya, rasa sakit yang dia sembunyikan dengan hati-hati.

He stopped to observe a blind man crossing the street, marveling at how the man navigated without sight. What must the world be like for him? How did he construct reality from sound and touch alone? Bloom's curiosity about others was endless, his empathy genuine.

Dia berhenti untuk melihat seorang pria buta menyeberang jalan, kagum pada bagaimana pria itu menavigasi tanpa penglihatan. Seperti apa dunia baginya? Bagaimana dia membangun kenyataan dari suara dan sentuhan? Keingintahuan Bloom tentang orang lain tidak ada habisnya, dan belas kasihnya tulus.

A poster advertised a concert, and Bloom thought of Molly's singing career. She had a beautiful voice, could have been famous if circumstances had been different. But life had taken them down other paths, and now she sought fulfillment elsewhere.

Sebuah poster mengiklankan konser, dan Bloom memikirkan karier menyanyi Molly. Dia memiliki suara yang indah, dan dalam keadaan lain, dia mungkin menjadi terkenal. Tapi hidup membawa mereka ke arah lain, dan sekarang dia mencari kepuasan di tempat lain.

The afternoon sun beat down on the pavement, making the city shimmer with heat. Bloom felt sweat trickling down his back, his collar growing damp. Time moved slowly, each minute an eternity. When could he safely return home?

Matahari sore membakar trotoar, membuat udara berkilauan karena panas. Bloom merasakan keringat mengalir di punggungnya, kerahnya lembap. Waktu berjalan lambat, setiap menit terasa seperti keabadian. Kapan aman untuk pulang?

He checked his watch again, calculating. Soon it would be over, and he could go back. Life would continue as before, with this new betrayal added to all the others. He would endure, as he always had.

Dia melihat jam tangan lagi dan menghitung. Sebentar lagi akan berakhir. Lalu dia bisa kembali. Hidup akan terus berjalan seperti sebelumnya. Pengkhianatan baru ini akan ditambahkan ke daftar yang lain. Dia akan bertahan, seperti yang selalu dia lakukan.