Ulysses - Chapter 7
Ulysses - Bab 7
Bloom walked through Dublin's streets at lunchtime, his stomach rumbling with hunger. The city was alive with people rushing to restaurants and pubs, seeking sustenance and companionship. He passed shop windows displaying food, each one tempting him with its offerings.
Bloom berjalan melewati jalan-jalan Dublin saat makan siang, perutnya keroncongan karena lapar. Kota itu ramai dengan orang-orang yang bergegas ke restoran dan pub, mencari makanan dan teman. Dia melewati jendela restoran, masing-masing menggodanya.
He thought about where to eat, considering various options. The Burton restaurant was nearby, but when he peered through its window, the sight of men eating greedily disgusted him. They tore at their food like animals, mouths open, faces red with exertion.
Dia mempertimbangkan tempat makan, menimbang pilihan. Restoran Burton ada di dekatnya, tetapi ketika melihat melalui jendela, dia mundur melihat pemandangan pria-pria makan dengan rakus. Mereka tampak seperti binatang, mulut terbuka, wajah memerah, mencabik-cabik makanan.
Turning away, Bloom sought somewhere more civilized. He entered Davy Byrne's pub, a quieter establishment where he could eat in peace. The bartender greeted him warmly, and Bloom ordered a gorgonzola cheese sandwich and a glass of burgundy.
Bloom berbalik, mencari tempat yang lebih beradab. Dia memasuki pub Davy Byrne, tempat itu lebih tenang dan damai. Bartender menyambutnya dengan hangat, dan Bloom memesan sandwich keju Gorgonzola dan segelas anggur Burgundy.
As he ate, Bloom's mind wandered to Molly and Blazes Boylan. The afternoon appointment loomed in his thoughts, unavoidable and painful. He checked his watch repeatedly, calculating how much time remained before the inevitable meeting.
Saat makan, pikiran Bloom melayang ke Molly dan Blazes Boylan. Pertemuan sore itu muncul di benaknya, tak terelakkan dan menyakitkan. Dia memeriksa jam tangan beberapa kali, menghitung waktu yang tersisa sebelum pengkhianatan itu.
Other patrons came and went, their conversations washing over him. Bloom heard fragments of gossip, business deals, and political opinions. Dublin was a small city where everyone knew everyone else's business, or thought they did.
Pelanggan lain masuk dan keluar, percakapan mereka melayang ke telinganya. Bloom mendengar gosip, negosiasi bisnis, pendapat politik. Dublin adalah kota kecil di mana semua orang tahu urusan orang lain, atau berpikir mereka tahu.
He finished his modest lunch and paid the bill, leaving a small tip. The food had been good, but it sat uneasily in his stomach. Nothing could distract him from the knowledge of what was happening at home this afternoon.
Dia menyelesaikan makan siang sederhananya, membayar dan meninggalkan tip kecil. Makanannya enak, tapi perutnya tidak nyaman. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pengetahuan tentang apa yang akan terjadi di rumah sore ini.
Stepping back into the street, Bloom resolved to keep busy. He would visit the museum, run errands, anything to occupy his mind. Time would pass whether he worried or not. He might as well try to enjoy the day.
Kembali ke jalan, Bloom memutuskan untuk menyibukkan diri. Masuk museum, belanja, gunakan otak untuk memikirkan hal lain. Khawatir atau tidak, waktu akan berlalu. Lebih baik mencoba menikmati hari ini.