Nestor

261 kata
2 reading.minutes
0:00 / --:--

Ulysses - Chapter 2

Ulysses - Bab 2

Stephen stood before his students at Mr. Deasy's school, teaching history with a weary heart. The boys fidgeted in their seats, barely listening as he spoke of ancient battles and fallen empires. Their young faces showed no comprehension of the weight of history, the burden of the past.

Stephen berdiri di depan kelas di sekolah Mr. Deasy, mengajar sejarah dengan hati yang berat. Anak-anak lelaki itu bergerak gelisah di kursi mereka, hampir tidak mendengarkan kisah-kisah pertempuran masa lalu dan kerajaan yang runtuh. Di wajah muda mereka, tidak ada pemahaman tentang beratnya sejarah atau beban masa lalu.

"What is a pier, sir?" one student asked, confusing the lesson entirely.

"Pak, apa itu dermaga?" tanya seorang murid, menyela pelajaran.

Stephen sighed. How could he teach these privileged boys about suffering and loss? They knew nothing of poverty, nothing of grief. Their lives stretched before them, unmarked by tragedy.

Stephen menghela napas. Bagaimana dia bisa mengajar anak-anak yang beruntung ini tentang penderitaan dan kehilangan? Mereka tidak tahu kemiskinan atau kesedihan. Hidup mereka terbentang di depan, tidak tersentuh oleh tragedi.

After class, Mr. Deasy summoned Stephen to his office. The old headmaster counted out Stephen's meager wages, coin by coin, lecturing him about thrift and responsibility. Deasy's worldview was simple: work hard, save money, trust in God and England.

Setelah sekolah, Mr. Deasy memanggil Stephen ke kantornya. Kepala sekolah tua itu berkhotbah tentang ekonomi dan tanggung jawab sambil menghitung setiap koin dari gaji Stephen yang sedikit. Pandangan dunia Deasy sederhana: bekerja keras, menabung, percaya pada Tuhan dan Inggris.

"The Jews are to blame for our troubles," Deasy declared suddenly, his face reddening. "They sinned against the light."

"Orang Yahudi adalah akar dari semua masalah kita," Deasy menyatakan tiba-tiba, wajahnya memerah. "Mereka berdosa terhadap cahaya."

Stephen listened politely, though he disagreed. He thought of the Jewish merchants in Dublin, hardworking and honest. Deasy's prejudice was born of ignorance, not wisdom.

Stephen mendengarkan dengan sopan tetapi tidak setuju. Dia memikirkan pedagang Yahudi di Dublin, orang-orang yang pekerja keras dan jujur. Prasangka Deasy berasal dari ketidaktahuan, bukan kebijaksanaan.

"I have a letter about foot-and-mouth disease," Deasy continued, thrusting papers at Stephen. "Take it to the newspaper offices. Use your connections."

"Ini surat tentang penyakit mulut dan kuku," lanjut Deasy, menjejalkan kertas ke tangan Stephen. "Bawa ke surat kabar. Gunakan koneksimu."

Stephen accepted the letter, knowing he would deliver it though he cared nothing for Deasy's agricultural concerns. He needed the money, needed this job, however much he despised it.

Stephen mengambil surat itu. Dia tidak peduli dengan kekhawatiran pertanian Deasy, tetapi dia akan mengirimkannya. Dia butuh uang, dan betapapun dia membenci pekerjaan ini, dia membutuhkannya.

As he left the school, Stephen felt the weight of obligation pressing down upon him. He owed money to everyone, owed his time to Deasy, owed his life to expectations he could never fulfill.

Saat berjalan keluar dari sekolah, Stephen merasakan beban kewajiban di pundaknya. Dia berhutang pada semua orang, berhutang waktu pada Deasy, berhutang pada kehidupan harapan yang tidak pernah terpenuhi.