Ulysses - Chapter 1
Ulysses - Bab 1
Stephen Dedalus awoke to the sound of Buck Mulligan's booming voice echoing through the Martello tower. The morning sun cast long shadows across the stone floor as Buck stood at the parapet, shaving bowl in hand, performing his mock ceremony.
Stephen Dedalus terbangun oleh teriakan Buck Mulligan yang bergema di seluruh Menara Martello. Cahaya pagi menyinari lempengan batu saat Buck berdiri di tembok pembatas, memegang mangkuk cukur, melakukan ritual mengejeknya.
"Come up, Kinch," Buck called down the winding stairs. "The sea awaits us."
"Ayo naik, Kinch!" teriak Buck ke bawah tangga. "Laut menanti kita."
Stephen climbed slowly, his mind heavy with thoughts of his mother's death. The guilt weighed upon him like a stone. He had refused to kneel at her deathbed, refused to pray as she had begged. Now her ghost haunted his dreams, her reproachful eyes following him everywhere.
Stephen menaiki tangga dengan perlahan, ingatan tentang kematian ibunya membebani pikirannya. Rasa bersalah menekannya seperti batu. Dia menolak untuk berlutut di samping tempat tidur ibunya saat dia sekarat, menolak untuk berdoa seperti yang diminta ibunya. Sekarang, hantu ibunya menghantui mimpi-mimpinya, dan tatapan menyalahkan ibunya mengikutinya ke mana-mana.
Buck continued his theatrical performance, quoting Latin phrases and making grand gestures. He was always performing, always the center of attention. Stephen watched him with a mixture of amusement and irritation.
Buck melanjutkan sandiwaranya, mengutip frasa Latin dan membuat gerakan berlebihan. Dia selalu berakting, selalu menjadi pusat perhatian. Stephen mengamati dengan campuran antara geli dan kesal.
"Tell me, Kinch," Buck said, turning serious for a moment, "why do you wear that black suit? Your mother's been dead nearly a year."
"Katakan padaku, Kinch," kata Buck dengan wajah serius sesaat. "Mengapa kau memakai pakaian berkabung hitam yang menyedihkan ini? Ibumu sudah meninggal hampir setahun yang lalu."
Stephen said nothing. How could he explain the burden of grief and guilt that consumed him? How could Buck, with his easy laughter and careless manner, understand the weight of conscience?
Stephen tidak menjawab. Bagaimana dia bisa menjelaskan beratnya kesedihan dan rasa bersalah yang menggerogotinya? Bagi Buck yang ceria dan tidak peduli, hati nurani adalah konsep yang asing.
The morning stretched before them, full of possibility and dread. Stephen knew he must leave this tower, leave Buck and his mockery behind. But where would he go? What would he do? These questions plagued him as the sun rose higher in the sky.
Pagi terbentang di depan mereka, penuh dengan kemungkinan dan ketakutan. Stephen tahu dia harus meninggalkan menara ini, meninggalkan Buck dan ejekannya. Tapi ke mana dia akan pergi? Apa yang akan dia lakukan? Pertanyaan-pertanyaan ini menyiksanya saat matahari naik tinggi di langit.
Buck returned to his shaving, humming a tune. The ordinary morning ritual continued, but for Stephen, nothing felt ordinary anymore. Everything was charged with meaning, heavy with significance.
Buck kembali mencukur sambil bersenandung. Ritual pagi yang biasa berlanjut, tetapi bagi Stephen, tidak ada yang terasa biasa lagi. Segala sesuatu sarat dengan makna, berat dengan kepentingan.