Chapter 17: Survival
Bab 17: Bertahan Hidup
Hours passed, then days. We floated on the coffin, alone in the vast ocean. The sun burned our skin, and thirst became a constant companion. We shared what little we had and talked of home to keep our spirits up.
Berjam-jam berlalu, lalu berhari-hari. Kami mengapung di atas peti mati, sendirian di lautan luas. Matahari membakar kulit kami, dan rasa haus menjadi teman yang konstan. Kami berbagi sedikit yang kami miliki dan berbicara tentang rumah untuk menjaga semangat kami.
Queequeg used his knowledge of the sea to help us survive. He knew which birds meant land and how to catch small fish. Without his skills, I am certain we would have died in that endless water.
Queequeg menggunakan pengetahuannya tentang laut untuk membantu kami bertahan hidup. Dia tahu burung mana yang berarti daratan dan cara menangkap ikan kecil. Tanpa keahliannya, aku yakin kami akan mati di air yang tak berujung itu.
On the second day, a ship appeared on the horizon. We waved and shouted until we were seen, crying with relief as they approached to rescue us from the sea that had almost taken our lives.
Pada hari kedua, sebuah kapal muncul di cakrawala. Kami melambai dan berteriak sampai mereka melihat kami, menangis lega saat mereka mendekat untuk menyelamatkan kami dari laut yang hampir merenggut nyawa kami.