The MadnessKegilaan

117 kata
1 reading.minutes
0:00 / --:--

Chapter 12: The Madness

Bab 12: Kegilaan

Captain Ahab's behavior became increasingly strange. He would spend days and nights on the deck, refusing to eat or sleep, his eyes always fixed on the sea. He talked to himself and sometimes seemed to see things that were not there.

Perilaku Kapten Ahab menjadi semakin aneh. Dia akan menghabiskan siang dan malam di geladak, menolak makan atau tidur, matanya selalu tertuju pada laut. Dia berbicara sendiri dan terkadang tampak melihat hal-hal yang tidak ada di sana.

Starbuck, the first mate, became concerned and tried to reason with Ahab. He warned that the captain's obsession was endangering the ship and crew. But Ahab would not listen, his mind consumed by thoughts of revenge.

Starbuck, mualim satu, menjadi khawatir dan mencoba menasihati Ahab. Dia memperingatkan bahwa obsesi kapten membahayakan kapal dan kru. Tetapi Ahab tidak mau mendengarkan, pikirannya dikuasai oleh pikiran balas dendam.

I watched Ahab with both fear and pity. This was a man who had once been a great captain, now destroyed by his need for vengeance. I wondered if any of us would survive this voyage.

Aku melihat Ahab dengan ketakutan dan kasihan. Ini adalah pria yang dulunya adalah kapten hebat, sekarang dihancurkan oleh kebutuhannya akan balas dendam. Aku bertanya-tanya apakah ada di antara kami yang akan selamat dari perjalanan ini.