Chapter 3: Work and Factory
Bab 3: Pekerjaan dan Pabrik
After my mother's death, my stepfather sent me to work in a factory in London. It was a dark, dirty place with long working hours and harsh conditions. There I met Mick Walker and Mealy Potatoes, who became my friends and taught me how to survive.
Setelah ibu saya meninggal, ayah tiri saya mengirim saya untuk bekerja di sebuah pabrik di London. Itu adalah tempat yang gelap dan kotor dengan jam kerja yang panjang dan kondisi yang keras. Di sana, saya bertemu Mick Walker dan Mealy Potatoes, yang menjadi teman saya dan mengajari saya cara bertahan hidup.
Despite the hardship, these friendships gave me comfort and hope. During this difficult time, I desperately missed my education. I still had dreams of becoming a learned man, but the reality of factory work seemed to crush those dreams. However, I refused to give up completely and read whenever I could.
Meskipun kesulitan, persahabatan ini memberi saya kenyamanan dan harapan. Selama masa sulit ini, saya sangat merindukan pendidikan saya. Saya masih memiliki impian untuk menjadi pria berpendidikan, tetapi realitas pekerjaan pabrik tampaknya menghancurkan impian itu. Namun, saya menolak untuk menyerah sepenuhnya dan membaca setiap kali saya bisa.